PERJALANAN SEORANG PESULAP PANGGILAN
KETIKA situasi perekonomian rakyat Indonesia masih tidak menentu dan banyak orang, khususnya politisi, hanya sibuk cuap-cuap mencari sistem yang pas untuk menuju konsep reformasi menuju Indonesia Baru, pesulap ALI yang tinggal di Jakarta malah sibuk mencari gerakan-gerakan untuk melahirkan pertunjukan yang mengasyikkan ditonton publik. Lihat Desain Kostum Badut dan Badut JakartaSebagai pesulap, ALI mengaku tidak mungkin menyulap orang-orang menjadi bersih seratus persen dari tindakan makar, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Apalagi, sampai harus sibuk menjalankan praktik lobi-lobi politik, menyongsong Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) . "Yang saya lakukan hanyalah menunggu panggilan (Badut Ulang Tahun)," ujar ALI baru-baru ini. Sejak tahun 1996, ia membuka usaha badut dan sulap panggilan di rumahnya dari belajar/ kursus SULAP, Jual Kostum dan Desain Kostum Badut. Untuk memudahkan konsumen yang ingin dihibur dengan badut dan sulap, ia memasang nomor telepon ukuran besar di halaman rumahnya. Promosi yang sama dilakukan hampir di setiap pohon dan tiang listrik di Kota Jakarta.
ALI memulai usaha ini setelah beberapa tahun berkelana dari kota ke kota di DKI Jakarta Dalam pengembaraannya, pria berperawakan kurus ini mulanya hanyalah seorang tukang sulap pada pasar malam yang digelar secara sporadis (berpindah-pindah).
"Rasanya lelah," kata ALI, mengingat bagaimana kerjanya setiap ada pasar malam. Ia, misalnya, harus tinggal beberapa hari di dalam keramaian. Malam hari, ia mulai berpenampilan lain, seperti berpakaian jas hitam yang di bagian dalamnya dapat tersembunyi aneka peralatan untuk sekadar "menipu" para penontonnya. Tak lupa pula, ia mengenakan topi hitam kebesarannya sebagai tukang sulap.
Untuk sekali pertunjukan, ia mewajibkan penonton masuk dengan karcis. Ia mengaku, kalau lagi mujur, setiap malam bisa mengantungi sekitar Rp 100.000. "Waktu itu, uang sebesar itu sudah amat besar meski saya masih harus membayar sewa tempat kepada panitia penyelenggara," ujarnya, sambil mengingat pertunjukan tunggal yang dilakukannya pada tahun 1995 (Badut Jakarta).
Meski memperoleh uang secukupnya (Badut Ulang Tahun), ia selalu bersyukur.
Sumber: www2.kompas.com

